Sabtu, 16 Desember 2017

Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Biaya Desain (Design Fee)

Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Biaya Desain (Design Fee)
Saat mendirikan sebuah bangunan, baik itu berupa rumah, kantor, gedung, dan atau semacamnya tentu diperlukan persiapan yang matang agar dapat tercipta bangunan ideal sesuai yang diharapkan. Oleh karena itu, diperlukan jasa konsultasi desain dengan seorang arsitek. Jasa desain diperlukan untuk membantu menyelesaikan masalah dalam proses pendirian sebuah bangunan.
Nah, biaya desain untuk jasa arsitek itu tidak gratis lho. Perlu dilakukan proses pekerjaan yang cukup berat untuk seorang arsitek dapat menghasilkan desain yang bagus dan tidak sekedar mengambil dari majalah-majalah desain.

Cara menghitung biaya desain

Di Indonesia, ada dua macam cara menentukan besaran biaya desain (design fee). Cara pertama adalah dihitung per meter persegi. Ini adalah cara yang lebih banyak digunakan. Cara kedua adalah dihitung berdasarkan persentase dari Rencana Anggaran Biaya (RAB) total bangunan. Mari kita telaah keduanya.

Kembang Murni House karya RAW Architecture

Berapa biaya desain arsitek per meter persegi?

(cara paling banyak digunakan)
Kisaran biaya desain untuk jasa arsitek per meter perseginya adalah sekitar 100 ribu hingga 1 juta rupiah per meternya. Perbedaan harga ini tergantung pada pengalaman dan skill dari masing-masing arsitek. Jadi, semakin berpengalaman, harganya juga akan semakin mahal.
Di Indonesia sendiri, pembayaran biaya desain arsitek per meter persegi memang lebih banyak digunakan dan lebih banyak dikenal. Tiap arsitek menetapkan biaya desain yang berbeda-beda untuk setiap meter perseginya. Anda harus cukup berhati-hati dalam memilih arsitek untuk urusan harga. Jangan sekedar memilih yang termurah, tetapi banyak fasilitas yang dikurangi dan dikerjakan secara tidak profesional.
Keunggulan dari menggunakan metode pembayaran per meter persegi antara lain, arsitek tidak akan membuat pemilik proyek boros karena biaya desain per meter sudah fix di awal dan pemilik proyek juga bisa lebih mudah menghitung serta memperkirakan berapa biaya desain yang dibutuhkan untuk proyek tersebut.

Kembang Murni House karya RAW Architecture

Berapa biaya desain arsitek berdasarkan presentase biaya konstruksi?

Tabel Honorarium Arsitek (Sumber: Ikatan Arsitek Indonesia)
Biaya Bangunan sampai
Kategori Bangunan


KhususSosial123
Kurang  Rp200 juta
Mengikuti Ketentuan dari Pemerintah yang berlaku
< 2,50%6,50%7,00%8,00%
Rp200 juta2,50%6,50%7,00%8,00%
Rp2 milyar2,50%5,51%5,90%6,48%
Rp4 milyar
4,78%5,13%5,60%
Rp20 milyar
4,20%4,52%4,92%
Rp40 milyar
3,71%4,01%4,38%
Rp60 milyar
3,29%3,58%3,92%
Rp80 milyar
2,92%3,20%3,52%
Rp100 milyar
2,60%2,88%3,18%
Rp120 milyar
2,32%2,59%2,88%
Rp140 milyar
2,07%2,34%2,62%
Rp160 milyar
1,86%2,12%2,39%
Rp180 milyar
1,67%1,98%2,20%
Rp200 milyar
1,51%1,76%2,03%
Keterangan tabel: Persentase yang tertera pada tabel merupakan persentase biaya desain untuk arsitek berdasarkan biaya bangunan. Persentase fee desain arsitek juga berbeda-beda, tergantung pada kategori bangunan yang dikerjakan. Tabel honorarium di atas merupakan standar minimal biaya desain arsitek yang berlaku dari website resmi IAI (Ikatan Arsitektur Indonesia).
Contohnya: Jika biaya bangunan yang dikerjakan adalah 2 milyar dengan kategori bangunan 1, biaya desain untuk arsitek adalah 2.5 % dari biaya bangunan, yaitu  50 juta rupiah.
*Biaya desain untuk arsitek tersebut tidak sekaligus dibayarkan di awal pengerjaan, tetapi dibagi dalam beberapa tahap dengan persentase tertentu pada tiap tahapannya.
Baca juga artikel: Tahap-tahap Pembayaran Jasa Arsitek

Porterhouse karya Alvin Tjitrowirjo

Penjelasan kategori bangunan pada tabel

1. Bangunan Khusus
Bangunan yang dimiliki, digunakan, dan dibiayai oleh pemerintah sesuai dengan yang tercantum pada Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara.
2. Bangunan Sosial
Bangunan sosial yang tidak bersifat komersial (non komersial):
  • Masjid, gereja dan tempat peribadatan lainnya, rumah penampungan yatim piatu, bangunan pelayanan masyarakat dengan luas bangunan maksimum 250 m2.
  • Bangunan rumah tinggal atau hunian dengan luas maksimum 36 m2.
3. Bangunan Kategori 1
Memiliki karakter sederhana, kompleksitas, dan tingkat kesulitan yang rendah.
  • Tipe Hunian: asrama, hostel
  • Tipe Industri: bengkel, gudang
  • Tipe Komersial: bangunan tidak bertingkat, tempat parkir

Porterhouse karya Alvin Tjitrowirjo
4. Bangunan Kategori 2
Memiliki karakter, kompleksitas, dan tingkat kesulitan rata-rata
  • Tipe Hunian: apartemen, kondominium, kompleks perumahan
  • Tipe Industri: gardu pembangkit listrik, gudang pendingin, pabrik
  • Tipe Komersial: bangunan parkir bertingkat, kafetaria, restoran, kantor, perkantoran, rukan, ruko, toko, pusat perbelanjaan, pasar, hangar, stasiun, terminal, superblock atau fungsi campuran
  • Tipe Komunitas: auditorium, bioskop, ruang pameran, ruang konferensi, ruang serbaguna, ruang pertemuan, perpustakaan, penjara, kantor pelayanan umum
  • Tipe Pelayanan Medis: klinik spesialis, klinik umum, rumah jompo
  • Tipe Pendidikan: sekolah, tempat perawatan
  • Tipe Rekreasi: gedung olahraga, gymnasium, kolam renang, stadion, taman umum
5. Bangunan Kategori 3
Memiliki karakter khusus, kompleksitas, dan tingkat kesulitan tinggi.
  • Tipe Hunian: rumah tinggal pribadi
  • Tipe Komersial: bandara, hotel
  • Tipe Komunitas: galeri, ruang konser, museum, monumen, istana
  • Tipe Pelayanan Medis: rumah sakit, sanatorium
  • Tipe Pendidikan: laboratorium, kampus, pusat penelitian atau riset
  • Tipe Peribadatan: gereja, klenteng, masjid, dan lain-lain dengan luas lebih dari 250 m2
  • Tipe Lain: kantor kedutaan, kantor lembaga tinggi negara, pemugaran, renovasi, bangunan dengan dekorasi khusus
Keunggulan dari metode pembayaran persentase adalah pemilik proyek bisa langsung “terima jadi” dan langsung membayar di akhir saat biaya bangunan telah diketahui jumlahnya. Namun, metode ini mempunyai kekurangan yaitu biaya pembangunan bisa saja membesar di akhir karena tidak ada biaya yang fix di awal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar