Rabu, 20 Desember 2017

Arsitektur Tradisional Rumah Betawi

Arsitektur Tradisional Rumah Betawi

Orang Betawi adalah penduduk “asli” Jakarta yang diduga kuat merupakan percampuran antara orang-orang Jawa, Melayu, Bali, Bugis, Makasar, Sunda, dan Mardijkers (keturunan Indo-Portugis) yang mulai menduduki Kota Pelabuhan Batavia sejak awal abad ke 15. Penduduk asli Betawi adalah pemeluk agama Islam yang taat. Akan tetapi, mereka bukan termasuk pemeluk agama yang fanatik karena sikap mereka yang tetap terbuka dan memiliki toleransi yang cukup tinggi terhadap agama lainnya.

Saat ini arus urbanisasi di Jakarta yang semakin lama semakin tidak terbendung, membuat kebudayaan lokal Betawi, sebagai suku aslinya, semakin lama kian menghilang. Penduduk ibu kota yang heterogen telah berdampak buruk terhadap kelestarian budaya Betawi.

Rumah adat Betawi yang tercatat secara resmi adalah rumah kebaya. Sebetulnya terdapat 3 jenis rumah adat Betawi lainnya selain rumah kebaya. Namun, ketiganya kurang begitu populer, sehingga rumah kebaya yang kemudian tercatat secara resmi. Berikut adalah 4 jenis rumah adat Betawi:


Gambar rumah gudang Betawi (Sumber: rumahnusa.blogspot.co.id)

Rumah Gudang. Rumah tradisional betawi ini berdiri di atas tanah yang berbentuk persegi panjang, rumahnya memanjang dari depan ke belakang. Atap rumahnya tampak seperti pelana kuda atau perisai, dan di bagian muka rumah terdapat atap kecil.
Rumah kebaya (Sumber: stickraft.blogspot.co.id)

Rumah Bapang atau Kebaya. Ciri khas rumah ini mempunyai serambi yang cukup luas dan berfungsi sebagai ruang tamu dan bale tempat bersantai untuk pemilik rumah. Ruang semi terbuka atau teras hanya dibatasi dengan pagar setinggi 80 cm dan biasanya lantainya lebih tinggi dari permukaan tanah dan ada tangga yang terbuat dari batubata dan disemen paling banyak 3 anak tangga sebagai jalan masuk menuju rumah. Rumah bapang berbentuk kotak sederhana atau bujursangkar sama sisi. Ciri khas rumah terlihat pada bentuk atapnya yang mempunyai beberapa pasang atap. Apabila dilihat dari samping berlipat-lipat seperti lipatan kebaya.
Rumah joglo Betawi (Sumber: rumahindonesia.us)

Rumah Joglo. Rumah ini berdenah bujur sangkar. Bentuk bangunan banyak dipengaruhi oleh arsitektur rumah Jawa. Perbedaannya adalah pada joglo rumah tradisional Jawa terdapat soko guru atau tiang-tiang utama penopang atap yang berfungsi untuk mengarahkan pada pembagian ruang, sedangkan pada joglo Betawi tidak terdapat soko guru dan pembagian ruang tidak nampak jelas, tiang penopang struktur atap tidak begitu nyata seperti pada rumah joglo yang asli. Pada rumah Betawi, tiang utama penopang struktur atap bukan unsur utama yang mengarahkan pembagian ruang pada denah.
Rumah panggung Betawi (Sumber: jejakdara.blogspot.co.id)

Rumah Panggung. Rumah tipe ini merupakan rumah adat Betawi untuk mereka yang tinggal di daerah pesisir pantai. Semua bahan rumah panggung menggunakan material kayu. Bentuk rumah panggung juga tercipta dengan tujuan sebagai pengamanan terhadap air pasang.
Ornamen hias rumah Betawi (Sumber: kabarinews.com)

Adapun ragam hias yang ada pada rumah tradisional Betawi berbentuk sederhana berupa ukiran pada kayu dengan motif geometris seperti titik, segi empat, belah ketupat, segitiga, lengkung, setengah lingkaran, dan lingkaran. Motif ini biasanya diterapkan pada lubang angin, kusen, daun pintu, jendela, tiang, dinding di ruang depan, listplank, garde (pembatas ruang tengah dengan ruang depan) dan pagar pada serambi yang dibuat dari bambu atau kayu. Dekorasi merupakan salah satu unsur arsitektural paling penting pada arsitektur rumah tinggal Betawi.
Teras rumah betawi (Sumber: www.anneahira.com)

Seperti rumah normal pada umumnya, rumah tradisional betawi atau rumah kebaya pada khususnya terbagi ke dalam beberapa ruangan, yaitu:
Teras depan yang dilengkapi dengan kursi jati sebagai tempat menerima tamu. Lantai teras dibersihkan setiap hari untuk menghormati tamu yang datang. Biasanya terdapat kursi-kursi atau tempat tidur yang terbuat dari kayu atau bambu yang disebut bale.
Kamar tamu atau paseban digunakan untuk tempat tidur bagi tamu yang menginap di rumah tersebut. Jika tidak ada tamu, paseban juga digunakan untuk tempat sholat.
Ruang keluarga atau pangkeng digunakan sebagai tempat berkumpul keluarga di malam hari.
Ruang tidur sendiri umumnya berjumlah kurang lebih 4. Ruang tidur utama berukuran lebih besar khusus digunakan untuk pemilik rumah dan istrinya.
Dapur atau srondoyan terletak di bagian belakang rumah, biasanya ruang makan juga bersatu dengan ruangan dapur ini.
Teras depan rumah Betawi (Sumber: kabarinews.com)

Adanya pendopo pada rumah adat Betawi khususnya pada rumah kebaya, secara filosofis menunjukan bahwa orang Betawi sangat terbuka pada tamu atau pada orang baru. Mereka juga bersifat pluralis dan bisa menerima perbedaan sebagai bentuk keragaman budaya bangsa. Filosofi lain yang dapat ditemukan adalah dari pagar di sekililing teras. Pagar ini memiliki arti bahwa orang Betawi membatasi diri dari hal-hal negatif, terutama dalam hal keagamaan. Budaya buruk akan mereka buang dan tinggalkan, sedangkan budaya yang baik akan mereka junjung tinggi dan ikuti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar